Labels

Tampilkan postingan dengan label Anak Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2011

Bocah 5 Tahun Dilatih Jadi Pasukan Teror Al Qaeda

Kelompok militan Taliban tak henti-hentinya mengatur cara baru dalam melakukan perlawanan terhadap pasukan koalisi asing di Afghanistan. Mereka dikabarkan melatih bocah berusia lima tahun menjadi martir untuk Al Qaeda.

Wajah bocah polos di Afghanistan, yang tidak mengerti arti sesungguhnya perpolitikan dunia, berubah menjadi sangar saat mereka memegang senapan buru sergap AK-47. Mereka diyakini dilatih untuk maju ke medan perang, bahkan disaat dirinya belum terlalu kuat memegang senjata. Demikian diberitakan Daily Mail, Senin (11/7/2011).


Bocah dijadikan pasukan terorTaliban (Foto: Daily Mail)
Dalam rekaman video yang diperoleh oleh Pasukan Inggris yang bertugas di Afghanistan, tampak bocah yang sebagian besar berusia lima tahun sedang latihan tembak dengan sasaran tembak tidak jauh dari mereka.

Mengejutkan melihat bocah yang seharusnya bermain dengan teman-temannya, justru berlatih untuk menjadi martir di sebuah kamp rahasia milik kelompok jaringan teroris Al Qaeda. Selain dilatih menembak, mereka juga dilatih untuk meledakan bangunan dengan bom serta merakit bom pinggir jalan.

Seorang komandan pasukan ini mengatakan bahwa Taliban makin deras merekrut anak kecil sebagai pelaku bom bunuh diri. Anak-anak ini juga sering dijadikan tameng hidup saat pertempuran terjadi antara Taliban dengan pasukan koalisi asing dan pasukan keamanan Afghanistan.

Militan Taliban melatih ratusan anak-anak ini menjadi pembunuh. Mereka pun menjalani pelatihan intensif di Waziristan Utara, Pakistan sebelum akhirnya dikirim ke perbatasan Afghanistan, untuk menghadapi pasukan koalisi.

Sebagian besar anak-anak ini berasal dari etnis Uighur China, yang lari dari Negeri Tirai Bambu tersebut untuk menetap di Pakistan dan Afghanistan.

Perekrutan pasukan anak-anak bukanlah hal baru dilakukan oleh Taliban. Sebelumnya Intelijen Afghanistan membeberkan kesaksian seorang anak laki-laki mengenai apa yang didoktrinkan Taliban kepadanya. Bocah itu mengaku bahwa dirinya akan menjadi pelaku bom bubuh diri.

Para pejabat intelijen Afghanistan mengatakan Taliban telah mengubah target sasaran mereka menjadi anak laki-laki muda, karena mereka lebih mudah didoktrin daripada orang dewasa. Para bocah juga lebih mudah percaya apa yang anggota Taliban katakan.

Namun, Taliban menyangkal tuduhan itu. Juru bicara Taliban Qari Yousef Ahmadi mengatakan, jika menggunakan anak-anak di bawah usia dan mereka tinggal di pusat-pusat militer, maka itu termasuk dalam pelanggaran kode etik.

Bulan lalu, seorang gadis kecil berusia delapan tahun tewas akibat bom di dalam tas yang dibawanya meledak. bocah perempuan tersebut sengaja dijadikan kurir oleh kelompok pria yang diduga anggota militan Taliban.

Saat itu, bocah tersebut bermaksud memberikan tas berisi bom itu ke polisi di Uruzgan, Afghanistan. Namun, upaya penyerangan itu gagal menewaskan para anggota kepolisian yang menjadi target. Alhasil, hanya bocah perempuan malang tersebut yang tewas akibat bom yang dia bawa

Sumber

Minggu, 13 Juni 2010

Karakter Seram Dari Anak Kecil

kalau ada foto kayak gini gimana? nggak semua dandanan seorang anak kecil bekesan lucu kan?























sumber: http://bloggue-blog.blogspot.com/2010/06/karakter-seram-dari-anak-kecil.html

Minggu, 30 Mei 2010

Pelajar Semarang Ciptakan Alat Bayar Minum Lewat SMS

Para pelajar kita tak tak cuma jawara dalam ilmu murni di Olimpiade Fisika dan Matematika. Mereka juga mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari maupun dunia industri. Penemuan para pelajar SMA Semesta Bilingual Boarding School Semarang berikut ini menjadi salah satu bukti.

Membeli minuman hanya dengan memasukkan sejumlah uang koin tertentu sudah bukan hal aneh. Di sudut-sudut Bandara Soekarno-Hatta atau shelter bus Transjakarta bisa kita jumpai mesin penjual minuman atau soft drink vending machine. Tapi membeli lewat layanan pesan singkat (SMS)? Cuma Aditya Putrawan dan Endo Sadewa yang mampu mewujudkannya.

Kedua pelajar itu mendemonstrasikan ide mereka pada lomba Info Matrix Project Competition di Bucharest, Rumania, 22-26 April lalu. Hasilnya, "Box Soft Drink Seller Via SMS" yang mereka ciptakan diganjar dengan medali perak.

Info Matrix merupakan olimpiade proyek penelitian tingkat internasional dalam bidang komputer untuk tingkat sekolah menengah atas. Ada lima kategori yang dilombakan: fotografi, pemrograman, muatan digital, kendali peranti keras, dan animasi. Kegiatan tahunan ini diselenggarakan oleh LUMINA Educational Institution bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Riset, Pemuda, dan Olahraga Rumania. Tahun ini pesertanya berasal dari 32 negara.

Aditya dan Endo menuturkan, pembuatan alat ini terilhami oleh cerita rekan sekolah yang baru mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang. Sang teman bercerita, di Negara Matahari Terbit itu, teknologi sangat memanjakan masyarakatnya. Di tempat-tempat publik, misalnya, bertebaran vending machine, yang menjajakan aneka bahan kebutuhan, seperti tiket, bahan bakar, makanan ringan, minuman, sampai kondom. Cukup dengan memasukkan koin atau uang kertas, barang-barang yang diperlukan bisa langsung didapat.

"Jika diaplikasikan di Indonesia, cukup susah," kata Aditya saat berbincang dengan Tempo, Kamis lalu. Sebab, di Indonesia uang koin pecahan terbesar cuma Rp 1.000 sehingga kurang praktis untuk penjualan harga yang mencapai Rp 5.000 atau lebih. Juga tidak praktis bila harga tidak bulat.

Penggunaan mesin dengan uang kertas juga kurang cocok mengingat uang kertas kita mudah lusuh dan kumal. "Kami berpikir, kenapa tidak menggunakan SMS saja," kata Endo. "Toh, hampir semua orang kini mempunyai telepon seluler," Aditya menimpali.

Dengan bimbingan seorang guru, proyek ini selesai empat bulan dengan biaya Rp 1,8 juta. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain boks dari bahan akrilik berukuran 50 x 30 x 70 sentimeter. Boks dilengkapi dengan micro-controller sebagai otak alat ini, motor servo sebagai penggerak, papan penyangga soft drink, modul GSM untuk menerima SMS, serta LCD sebagai layar konfirmasi pemesanan.

Cara kerjanya sederhana. Cukup kirim SMS ke nomor yang tertera dalam vending machine dengan mengetik jenis minuman dan jumlah barang yang dipesan. Permintaan akan dikonfirmasi mesin melalui layar. Untuk sementara, mesin ini hanya menawarkan tiga merek minuman ringan, masing-masing merek tersedia tiga kaleng. "Namun dengan mudah bisa diganti dengan merek lain, termasuk operator GSM bisa diganti dengan CDMA," kata Endo. Kapasitas mesin ini juga bisa ditingkatkan.

Kedua siswa berusia 17 tahun ini mengaku tidak menemukan kesulitan berarti saat merangkai mesin itu. Cuma agak melelahkan karena harus bolak-balik dari sekolah di Gunung Pati ke laboratorium Fakultas Teknik Elektro Universitas Diponegoro, yang berjarak sekitar 30 kilometer. "Meski capek, tapi kami puas mampu bersaing dengan pelajar di tingkat internasional," kata Endo dan Aditya bersamaan.

Aditya, yang bercita-cita menjadi duta besar, juga puas, bisa bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara sambil memperkenalkan budaya Indonesia. "Karena Info Matrix Project Competition tidak sekadar lomba pengetahuan, juga tapi pergelaran budaya masing-masing negara peserta."
Apakah temuan ini akan disempurnakan dan dikomersialkan? Keduanya belum memberikan kepastian. Sebab, pada saat kelas tiga nanti, mereka harus total berkonsentrasi menghadapi ujian akhir nasional. "Tapi, jika ada adik kelas yang ingin meneruskan, silakan," ujar mereka.

sumber: www.lihatberita.com

Jumat, 28 Mei 2010

Ini Dia Anak Kecil Calon Wanta Tercantik Di Dunia


Spoiler for Gambar:


Spoiler for Gambar:


Spoiler for Gambar:


Spoiler for Gambar:


sumber":lintasraya.blogspot.com

Selasa, 18 Mei 2010

Bocah 7th kayak mendadak, Lukisannya dbeli 273jt

INGGRIS - Bocah berusia tujuh tahun dianggap sebagai jenius baru di bidang seni lukis. Pasalnya, dia dikabarkan berhasil menjual 16 karya lukisannya seharga 18 ribu poundsterling atau sekira Rp273 juta (Rp15,176 per pound) dalam waktu 14 menit.

Adalah Kieron Williamson, bocah yang berdomisili di kota Holt, selatan wilayah Inggris, bersyukur diberikan bakat seni lukis yang mumpuni. Bakat seni lukisnya ini membuat iri banyak orang, bahkan dirinya disamakan dengan pelukis ternama dunia Pablo Picasso.

Terinspirasi dari wilayah lanskap Norfolk, wilayah pantai timur Inggris, lukisan Kieron yang menggunakan crayon, cat air dan cat minyak, menunjukkan kedewasaan yang melebihi umurnya sendiri. Lukisannya sendiri ini bahkan dihargai 1,500 poundsterling atau sekira Rp22,5 juta per buah.

Awal mula Kieron mencoba untuk melukis sendiri terjadi tanpa kesengajaan. Saat usianya 5 tahun, bocah laki-laki tersebut berlibur dengan keluarganya ke Cornwall, Inggris. Melihat pemandangan dermaga, Kieron minta pada orangtuanya untuk dibelikan buku sketsa. Sejak saat itu Kieron seperti tersihir dengan dunia lukis.

Meski aktif melukis, orangtua Kieron tidak mampu mendesak anaknya. Kieron hanya mau melukis saat dia sedang ingin melukis. Keluarganya bahkan membatasi karya lukisan yang akan dijual, hingga pembeli dari seluruh dunia mengantre untuk memiliki karya bocah ajaib tersebut.

Ayah Kieron menyatakan, jika penjualan karya anaknya pada November lalu merupakan sebuah peristiwa fenomenal. Penjualan tersebut bahkan mengundang pembeli dari Jepang. Sementara bunyi telepon tidak berhenti bersuara menawar karya anaknya. Pembeli juga banyak yang datang langsung ke rumah Kieron.

Akhirnya Ayah Kieron bersedia menjual karyanya dan dalam waktu hanya 14 menit, 16 karya lukis Kieron berhasil terjual. Kini dengan uang Rp273 juta tentunya dapat mendorong Kieron untuk terus berkarya dan menciptakan lukisan yang membuat kagum banyak orang.

Spoiler for ni tersangka bocahnya:



ni lukisannya











sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4117825

Jumat, 14 Mei 2010

Anak Pemulung di Bali Juara Foto Internasional

Metrogaya-''Ayam Ini Gantungan Hidupku'' judul dari sebuah foto yang dibuat oleh
Ni Luh Mertayani (15), anak pemulung yang hidup yatim memenangkan lomba foto internasional yang digelar Yayasan Museum Anna Frank di Belanda, mengalahkan peserta yang berasal dari 200 negara, beberapa waktu lalu. Atas prestasinya itu Ni Luh Mertayani yang masih duduk di kelas III SMPN 2 Abang, Karangasem diundang ke Belanda untuk menerima hadiahnya.

Mertayani berasal dari keluarga miskin. Dia tinggal di Bias Lantang Desa Purwakerti, Abang, Karangasem. Dia tinggal di gubuk berdinding pelepah daun kelapa, beratap asbes dengan rumah berlantai tanah. Rumahnya bisa dibilang tak layak huni. Sehari-hari, dia membantu ibunya berjualan asongan di Pantai Amed. Dia menawarkan minuman ringan kepada wisman. Pekerjaan rutin itu dilakoni tiap sore atau saat libur hari Minggu. Guna menambah bekal sekolah, dia nyambi memungut rongsokan, sampah rumah tangga dari plastik atau besi. Dia nyambi mulung -- mengumpulkan barang bekas yang bisa dijadikan uang. Pekerjaan ini juga dilakukan ibunya, selain berjualan asongan.

Karena tiap hari berjualan asongan di pantai, dia akrab dan bisa berkomunikasi dengan wisman. Melihat kehidupannya yang sederhana dan cukup memprihatinkan, dia pun menarik perhatian seorang wisman. Dia diberi sebuah kamera oleh seorang wisman Belanda Mrs. Dolly. Dia mencoba belajar memotret dilatih wanita Belanda itu. Sebuah karya foto cukup indah yakni ayam kampung yang hendak tidur menjelang senja di ketela pohon sebagai pohon perindang di halaman gubuknya, dipotret sebanyak 15 jepretan. Sebelumnya, dia sudah ke sana-ke mari mencari objek foto.

Ternyata fotonya itu yang dikirim, dan berhasil menyisihkan karya foto lainnya dari peserta 200 negara. Karyanya menjadi juara, tak lepas dari latar belakang kehidupan Mertayani dan keluarganya yang serba kesulitan.

Perjuangan Hidup
Dia bertahan hidup di tengah kesusahan, mirip perjuangan hidup seorang Anna Frank. Tokoh ini seorang bocah Jerman keturunan Yahudi. Saat pembantaian bagi kaum Yahudi oleh rezim Hitler, Anna Frank berhasil lari, selamat dan bersembunyi di sebuah kamp. Saat itu umurnya sekitar 12 tahun.

Di dalam persembunyian, dia rajin menulis catatan harian bagaimana dia lari dan bertahan hidup di tengah kejaran tentara Nazi yang kejam. Pada akhirnya, Anna Frank terkenal berkat tulisan-tulisan dalam buku hariannya itu, sementara seluruh anggota keluarganya tewas dibantai tentara Nazi.

Mertayani, anak pemulung itu atas karyanya yang dipandang cukup spektakuler, dia diundang ke Belanda selama sepuluh hari yakni sejak 28 April sampai 8 Mei. Selain mendapatkan hadiah keliling Negeri Kincir Angin, dia juga mendapatkan beasiswa, hadiah kamera, dan laptop serta biaya hidup bersama keluarganya.

Saat ditemui di gubuknya, Mertayani mengaku bahagia atas hadiah itu. Dia pun mengaku kian bersemangat belajar dan nantinya melanjutkan ke SMA, dengan harapan menjadi anak yang sukses, sehingga bisa membantu hidup keluarganya.

Narasi sang juara tentang fotonya:
The chickens in the tree are our little investment to earn some money for our daily needs. This place in front of our little house at the beach is a lovely placeIf only we could stay at this place... If only we would have a house of stone instead of bamboo which can collapse by strong winds...If only we would have more than one bedroom for the three of us and where the wind and rain stays outside our bedroom...If only we will have the money to continue school to make our ambitions come true.

After reading The diary of Anne Frank it is my ambition to be a journalist. So I take this opportunity to tell a piece of my life story. I want to tell the world how it is to be poor. I hope my story will help to get a better live for everyone. I hope that as a journalist I also can earn money and make our dream of our own lovely place come true. Source Here

Terjemahan :
Kutip:Ayam-ayam di pohon adalah investasi kecil kami untuk mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Tempat ini ada di depan rumah kecil kami di suatu pantai yang indah ... Jika saja kita bisa tinggal di tempat ini ... Jika saja kami memiliki rumah dari batu, bukan bambu yang dapat runtuh oleh angin yang kuat ... Jika saja kami memiliki lebih dari satu tempat tidur untuk kami bertiga dan di mana angin dan hujan terjadi di luar kamar tidur kami ... Jika saja kami punya uang untuk melanjutkan sekolah untuk mengubah ambisi kami menjadi kenyataan.

Setelah membaca "buku harian Anne Frank" ambisi saya adalah untuk menjadi seorang jurnalis. Jadi saya mengambil kesempatan ini untuk menceritakan sepotong kisah hidupku. Saya ingin memberitahu dunia bagaimana rasanya menjadi miskin. Saya harap cerita saya akan membantu untuk kehidupan yang lebih baik bagi semua orang. Saya berharap nanti sebagai jurnalis saya bisa mendapatkan uang dan membuat impian kami tentang tempat yang indah menjadi kenyataan.
(yc/bali.post)
sumber: http://www.metrogaya.com/headline/anak-pemulung-di-bali-juara-foto-internasional